
Buaian yang tak terhitung jumlahnya bergoyang di tengah hujan. Anak-anak yang lahir di Kota Hujan hanya mengenal sentuhan hujan. Tetes-tetes air menggema di tulang-tulang mereka, dan kabut mengalir bersama napas mereka. Dengan mata basah, mereka menatap tanah air mereka yang selalu berawan.