
Para pengecut yang jahat memutarbalikkan retorika mereka, melukiskan fajar palsu di tengah malam yang tak pernah ada. Dengan hanya janji-janji kosong, mereka mencoba menawar hati yang tulus. Mereka bersumpah bahwa begitu kekuasaan dan permata berada di genggaman mereka, mereka akan menghadiahinya kemuliaan, mahkota, dan nama yang tak akan pernah mati—tetapi kata-kata mereka sama kosongnya dengan jiwa mereka.