
Ia selalu menyisakan satu harapan lebih, menggantungkan rindu pada mimpi panen yang tumbuh di tempat lain. Mimpi mereka berdua teranyam menjadi untaian kalung, yang satu menyematkan daun gugur dari kampung halaman, dan yang lain menggenggamnya erat dalam tangan yang saling terkatup saat memanjatkan doa.