
Ia menelusuri siang dan malam di tengah bisikan makhluk tak terhitung jumlahnya, membenamkan dirinya dalam kehidupan mereka, mencari jiwa dalam tariannya sendiri. Hingga cahaya pagi muncul, tetesan embun pertama jatuh ke telapak tangannya, seperti cermin kecil yang memantulkan hatinya.