
Para Chromaface mengamati ratusan perdagangan seolah-olah sedang menatap fatamorgana: anak-anak mengejar lukisan gula di jalanan, pemilik toko menghitung manik-manik di konter mereka. Seruan bergema di lorong-lorong yang berkelok-kelok, asap masakan melayang di sekitar balok-balok kayu berusia seabad. Kerajinan tangan berlomba-lomba menunjukkan kecerdasan mereka, lentera-lentera saling menjalin cahayanya. Pada pandangan pertama mereka terhadap dunia fana, para Chromaface merasakan indra mereka berputar dan semangat mereka bergejolak.