
Kelopak-kelopaknya layu, tetapi semangatnya tetap bertahan. Tak rela membiarkannya membusuk di tanah, anak itu dengan hati-hati melestarikan bentuk dan warnanya, melukisnya dengan sapuan-sapuan halus dan membuat pembatas buku ramping untuk disematkan di antara buku-buku yang tak terhitung jumlahnya, hidup abadi di tengah tinta dan kata-kata.