
Ia teringat akan gagasan-gagasan absurd yang dibagikannya kepada saudara perempuannya—sinar matahari bagaikan benang emas, awan bagaikan wol halus... Saudara perempuannya tidak menertawakan kata-kata khayalnya, hanya mengangguk pelan, bagaikan angin musim semi yang menyambut bunga yang baru mekar.