
Barangkali harapan memang ditakdirkan untuk berakhir dalam diam. Benih-benih itu tak pernah merespons, hanya berdiam dalam mimpi. Sang adik diam-diam menyembunyikannya di balik sapu tangannya, dengan lembut memelihara mimpi-mimpi yang mulai bersemi tanpa mempertanyakan kebangkitannya yang terlambat.