
Setelah kepergian adiknya, mimpinya masih bermandikan cahaya terang. Ia mengamati setiap percikan ilusi seperti pemulung yang mencari surat-surat yang hilang. Ia tak pernah percaya mimpi hanyalah cermin yang berulang. Di suatu tempat di dalamnya, pikirnya, pasti ada ramalan tentang sinar matahari.