
Pada saat itu, ia akhirnya melepaskan keraguannya. Ia mengetuk pintu seperti biasa, tetapi kali ini ia tidak membawakan lagu pujian atau harapan. Ia ingin menghancurkan topeng orang-orang, agar jiwa mereka yang buruk dan serakah dapat ditelanjangi di hadapan sang bidadari untuk diadili.