
Ketika angin musim semi kembali mengguncang ladang, semua penantiannya terbayar. Ia menghentikan langkahnya yang mengembara, sering kali beristirahat di bawah naungan ranting-ranting yang melilit, mengubah setiap helai daun yang gugur menjadi secarik puisi, bertukar kata-kata lirih tentang tanaman dan pepohonan.

Palet Takdir