
Hati ini begitu berbakti, namun jiwa buas di dalamnya menyesal. Ia mengangkat tangan untuk melindungi matanya yang tersenyum, malu pada dirinya sendiri. Meskipun wujud manusianya dapat dilepaskan, sifat jiwa buas itu tetap ada. Dalam wujud yang begitu tak layak, bagaimana mungkin ia bisa berada di dunia kuasnya yang mekar?