
Sekali lagi, ia melipat harapan ke dalam perahu kertas, hanya untuk menyaksikannya lenyap di tepi Kota Hujan. Surat-surat yang ditulisi pesan berkode dicabik-cabik badai. Mengapa dunia harus membangun tembok tanpa bentuk, di mana seberkas cahaya pun tak mampu menembusnya?