
Ia tak kenal lelah mengulurkan uluran tangan berkali-kali, hingga anak-anak menatapnya dengan rasa iri. Barulah ia sadar, bahwa dirinya yang dulu menjunjung tinggi cahaya, kini telah menjadi cahaya bagi sesama. Sejak saat itu, siklus yang disebut ideal mulai terulang.