
Ia melompat dari menara tinggi menuju awan dan pelangi, pikirannya yang tak terhitung jumlahnya berhamburan bagai hujan yang pecah tertiup angin. Gairah, keengganan, bahkan ketakutan—ia menerobos badai, dan ketika ia menoleh ke belakang, menara tertinggi Kota Hujan tak lebih dari setitik.