
Takdir itu kejam; dalam batasan takdir, setiap langkah membatasi tubuh. Namun hati yang semurni es itu, melintasi gunung dan lautan untuk akhirnya bertemu. Menengok ke belakang, seribu malapetaka berlalu seperti air; hanya pengabdian sejati yang menerangi debu abadi.

Gema Rupa