
Jalan-jalan yang diterangi lentera masih bersinar terang, namun ilusi-ilusi yang dulunya tersembunyi mulai terbentuk dan kemudian menetap. Ia membentangkan visi-visi palsu itu menjadi jalan yang dapat dilalui, melangkah di atas cahaya yang mengalir seolah-olah itu adalah tanah yang kokoh. Mengikuti lampu-lampu berkelok yang menuntun jalan, pikirannya menjadi jernih dan penglihatannya tak terhalang, dan tubuhnya bergerak dengan ringan dan mudah.