
Sambil memandangi properti yang baru dibuat, ia meletakkannya di tengah panggung, lalu buru-buru mundur sebelum pertunjukan dimulai. Ia merasa seperti sedang mengikuti puisi yang belum selesai, terperangkap dalam kecemerlangan yang samar, tak mampu merasakan warnanya atau memahami tepinya.