
Dentingan senar terdengar, suara seruling menjawab. Wajah-wajah yang dirias naik ke panggung; kibasan lengan baju, pandangan sekilas ke belakang—dan aula pun hening. Wujudnya bagaikan fajar di atas salju, gerakannya seperti angin di atas air yang mengalir. Gaun sutra berputar, langkah-langkah teratai menimbulkan debu. Sebelum lagu berakhir, penonton berdiri terpaku, benar-benar melupakan diri mereka sendiri.