
Sisa panas mengalir keluar, dan punggung yang tak pernah tumbuh sayap tak mampu menanggung beban peperangan. Karena itu, dia memadatkan detak jantungnya menjadi api, dan membiarkan fajar yang terlambat datang mengalir ke dalam pembuluh darahnya. Api yang menetes dan tubuh yang terbakar... Segala yang tersisa darinya menjadi bara api yang menyakitkan di mata sahabatnya, seperti sebuah percikan bintang.