
Kota itu semakin ramai dari hari ke hari, Chromafaces berdatangan dari segala penjuru. Mereka meniru berbagai macam tingkah laku manusia, terjebak antara kekaguman dan kebingungan. Di tengah hiruk pikuk itu muncul tiruan yang kaku dan kegelisahan akibat perubahan peran. Namun di tengah kebisingan ini, tanah yang dulunya terkutuk itu perlahan-lahan mulai menunjukkan sedikit kehangatan manusia.