
Namun, saat ia semakin larut dalam pengalamannya, di saat-saat sunyi malam yang gelap, sebuah pikiran mengaduk hatinya: tulisan manusia hanya mencatat permukaan dan bentuk. Jiwa yang lebih halus bersemayam di luar daging dan kerangka, seperti lukisan loong yang belum memiliki sentuhan akhir, atau ukiran giok yang masih menunggu jiwanya.